The Midnight Sanctuary adalah game pertama yang berhasil membuat kepala saya pusing. Bukan karena gamenya punya banyak bug, tapi karena tampilan visualnya. Saya paham developer mungkin ingin game ini memiliki keunikan tersendiri. Tapi mereka seharusnya ingat jika video game dibuat bukan untuk diri sendiri, tapi untuk dinikmati oleh orang lain.

Sebelum saya memulai, saya akan berbicara sedikit mengenai The Midnight Sanctuary. Game ini dibuat oleh developer Cavy House bekerjasama dengan Unties. Genre game ini adalah visual novel dimana seharusnya storyline merupakan “daya tarik utama”. Saya akan menjelaskan lebih detail kenapa saya menegaskan kata tersebut.

Cerita Tidak Sinkron

The Midnight Sanctuary mengambil setting di pedesaan Jepang bernama Daiusu. Karakter utama game ini yaitu Hamomoru Tachibana diundang oleh anak kepala desa, Jyuan Daiusu untuk berkunjung. Pada awalnya kedatangan Hamomoru hanya untuk membantu mengungkap sejarah dari desa tersebut. Namun lambat laun, tujuan asli Jyuan terungkap. Ia ternyata ingin memodernisasi desa Daiusu dengan membuat wahana bermain. Tujuannya tentu saja adalah untuk mendatangkan turis dan pastinya uang. Jika kamu mengira ini cerita utamanya, kamu salah besar!

Nope

Ketika proyek modernisasi berjalan, mendadak desa Daiusu dikagetkan dengan munculnya seorang wanita misterius. Wanita ini dianggap sebagai seorang nabi karena bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang biasa. Kemunculan wanita ini membuat tujuan Hamomoru pun berubah. Ia tidak lagi menjadi bagian panitia modernisasi. Ia justru menyelidiki identitas wanita misterius itu.

Menurut saya terlalu banyak cerita yang ditanam dalam game ini. Hal ini sebenarnya boleh-boleh saja, tapi developer harus bisa membuat semua cerita tersebut menyambung. Di game ini justru alur cerita sering terputus karena banyak dialog yang sulit dimengerti. Ini sangat disayangkan apalagi mengingat pengisi suara game ini sudah bekerja dengan baik.

Mungkin dari segi cerita jika saya meluangkan waktu lebih banyak untuk bermain, saya lambat laun akan mengerti. Sayang tampilan visual game ini justru membuat saya tidak betah bermain lama-lama.

Tampilan Visual Yang Unik Tapi Malah Menganggu

Semua karakter di game ini (Kecuali tokoh sentral) memiliki badan yang tembus pandang. Kondisi ini lalu diperparah dengan gambar background yang bisa terlihat melalui badan para karakter. Ditambah lagi dengan sudut kamera yang tidak bisa dipindah-pindah. Saya juga sempat melihat gamer yang memainkan game ini dengan headset VR. Saya tak bisa membayangkan seperti apa rasanya. Agar lebih jelas kamu bisa melihatnya di YouTube dan rasakan sendiri efeknya.

Hal lain yang menganggu adalah game ini sama sekali tidak mengizinkan pemainnya untuk bermain. Selama permainan tidak choices yang bisa diambil oleh pemain. Kamu baru bisa menggunakan mengerakkan gamenya pada saat memilih tempat saja. Game ini juga tidak memiliki fitur autosave sehingga harus dilakukan secara manual.

Momen dimana kamu bisa menggunakan keyboard/controller

Kesimpulannya adalah The Midnight Sanctuary bukanlah game untuk semua orang. Salah satu penyebabnya adalah tampilan visual yang menurut saya menganggu. Meski saya tidak menyukainya, saya tetap memuji sang developer karena berani mengambil ide out-of-the-box. Seandainya saja tampilan visual tersebut bisa lebih disesuaikan, pemain mungkin masih bisa mengikuti cerita yang disajikan tanpa harus khawatir kepalanya pusing.

*The Midnight Sanctuary yang direview adalah versi PC.