Seperti yang sudah diprediksi, Sekiro: Shadows Die Twice bukanlah sembarang game. Dibuat oleh From Software yang juga pencipta dari Dark Souls dan Bloodborne, Sekiro: Shadows Die Twice tidak ditujukan bagi mereka yang berjiwa lemah. Game ini menuntut pemainnya untuk “git gud” jika tidak ingin mati terus-terusan.

Jujur, saya bukanlah game hardcore semacam Dark Souls. Biasanya saya berusaha menghindari game semacam itu. Tapi khusus untuk Sekiro: Shadows Die Twice, ada alasan khusus kenapa saya memutuskan untuk memainkannya.

Saya ingat dengan pernyataan developer From Software pada 2018 dulu jika Sekiro: Shadow Die Twice awalnya akan dibuat menjadi game Tenchu. Dari gameplay yang saya lihat pada trailer juga terdapat unsur gameplay stealth. Saya lalu berpikir jika game ini akan berbeda dengan Dark Souls dan Bloodborne. Belum lagi saya juga kangen dengan game Tenchu. Berdasarkan pemikiran tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk memainkan Sekiro: Shadows Die Twice. Hasilnya ternyata tidak disangka.

Meski sempat putus asa sekaligus kagum akan tingkat kesulitan game ini, entah kenapa saya betah untuk terus memainkannya. Ada beberapa hal yang menurut saya membuat game ini “lebih jinak” dibandingkan Dark Souls dan Bloodborne.

Cerita Sekiro: Shadow Die Twice

Sudah menjadi kebiasaan dari From Software untuk mengutamakan gameplay dari storyline. Meskipun adapun, pemain tidak bisa merasakannya karena sudah frustasi duluan dengan gameplay.

Sekiro: Shadow Die Twice menceritakan kisah dari seorang Shinobi bernama The Wolf. Ia adalah seorang Shinobi yang ditugaskan untuk melindungi seorang anak dengan kemampuan misterius yang dinamai The Divine Heir. Kemampuan unik ini menyebabkan anak tersebut menjadi perhatian banyak pihak yang juga menginginkannya.

Deflect Simulator 2019

Sistem baru yang diperkenalkan oleh From Software di Sekiro: Shadows Die Twice adalah deflect. Sistem ini lalu dikombinasi dengan sistem posture. Jika meteran posture musuh telah habis, pemain bisa memberikan deathblow dengan animasi yang keren.

Saya akan ulas mengenai sistem deflect terlebih dahulu. Sistem ini merupakan core dari game Sekiro: Shadows Die Twice. Jika ingin menyelesaikan game ini, pemain wajib menguasainya. Semua serangan musuh di game Sekiro: Shadows Die Twice dapat di-deflect, kecuali serangan spesial. Ini alasannya kenapa saya menyebut Sekiro: Shadows Die Twice sebagai game deflect simulator 2019.

Mekanisme dari sistem deflect ini adalah setiap serangan yang berhasil di-deflect akan mengisi meteran dari posture. Jika meteran ini sudah penuh, maka musuh akan stun sejenak. Inilah saatnya bagi pemain untuk memberikan deathblow. Biasanya diperlukan satu deathblow untuk menghabisi musuh biasa, sedangkan untuk bos biasanya dua kali.

Jika tidak memungkinkan untuk deflect, pemain bisa menahan dengan block biasa. Tapi hati-hati, karena block justru membuat meteran posture dari Wolf terisi. Pemain harus paham kapan momen untuk melakukan deflect, menyerang, dan block.

Sistem deflect sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru di game milik From Software. Dark Souls dan Bloodborne juga memiliki sistem ini, namun tidak intens seperti Sekiro: Shadows Die Twice.

Bisa Assassinate Juga

Meski bukan lagi game Tenchu, From Software berbaik hati dengan mengimplementasi skill untuk assassinate. Pemain bisa membunuh musuh dengan sekali serang jika menggunakan skill ini. Saya sering menggunakan assassinate, karena menurut saya inilah cara paling mudah untuk membunuh musuh.

Tidak hanya creep atau musuh biasa saja yang bisa di-assassinate. Bahkan mini boss pun juga bisa. Pastikan target tidak melihat saat didekati dan BOOOM! Buat kaget dengan serangan diam-diam.

Memilih Prostetic dan Arts

Seperti yang sudah kamu lihat di trailer, karakter utama Sekiro: Shadow Die Twice memiliki tangan buatan atau prostetic. Tangan ini memiliki banyak fungsi, bisa digunakan sebagai grapling hook dan juga senjata untuk melempar kunai atau menyabet dengan kapak.

Jenis prostetic yang bisa dipilih

Prostetic memiliki banyak variasi, tapi hanya tiga saja yang bisa di-equip oleh Wolf. Seperti game Mega Man, beberapa boss di Sekiro: Shadow Die Twice memiliki kelemahan dengan prostetic jenis tertentu. Jadi pastikan untuk menggunakan prostetic arm yang sesuai dengan kondisi. Prostetic arm ini juga bisa diupgrade agar kemampuannya meningkat.

Selain prostetic arm, ada juga arts. Kemampuan ini bisa diperoleh dengan menggunakan experience point. Arts dibagi menjadi dua tipe, yaitu active dan passive. Khusus untuk active, pemain hanya bisa menggunakan dua arts saja. Sedangkan passive bisa digunakan sebanyak apapun. Pada awal permainan hanya ada tiga arts. Sisanya diperoleh dari mengalahkan boss tertentu.

Menu arts dan skill yang bisa di-unlock

Ada kekurangan yang menurut saya cukup vital dari sistem arts. Pemain tidak diizinkan untuk mereset skill yang sudah mereka unlock. Padahal untuk memperoleh experience point tidaklah mudah. Experience point hanya bisa didapat dari membunuh musuh, dan semua musuh di game ini sangat berbahaya, tidak peduli itu creep atau boss. Salah sedikit nyawa melayang plus experience point yang sudah didapat. Ya, experience point akan turun jika pemain terbunuh, dan parahnya lagi tidak bisa didapatkan kembali! Jadi sebisa mungkin jangan sampai mati di game ini.

Selain itu tidak ada penjelasan yang cukup jelas dari skill yang akan diambil. Ibarat kucing dalam karung, pemain sama sekali tidak tahu seperti apa nantinya skill yang diambil karena tidak bisa mencoba dulu. Jika ternyata skillnya tidak sesuai maka habis sudah. Pemain harus farming experience point dari awal lagi.

Resurrection

Ini alasannya kenapa game ini diberi judul Sekiro: Shadow Die Twice. Jika terbunuh, Wolf bisa hidup kembali dengan resurrection. Kemampuan ini memastikan pemain memiliki continue jika mati dalam pertempuran. Namun kemampuan ini juga memiliki dampak negatif terhadap NPC yang berinteraksi dengan Wolf.

Jika mati pilihannya ada dua, die atau resurrect

Jika sering mati, maka Wolf akan menularkan semacam penyakit bernama Dragonrot ke NPC. Pada awalnya saya mengira jika NPC yang terkena Dragonrot akan mati dan berdampak dengan storyline. Namun pada kenyataannya tidak, NPC-NPC tersebut tidak mati.

Efek Dragonrot ini hanya berdampak kepada Unseen Aid. Sedikit penjelasan, Unseen Aid satu-satunya cara agar experience point dan uang tidak berkurang saat Wolf mati. Unseen Aid ini menggunakan presentase, artinya skill tidak muncul setiap saat. Jika NPC terkena Dragonrot maka presentase Unseen Aid menurun. Jadi kesempatan untuk mendapatkan bantuan tersebut juga semakin jarang.

Tidak Ada Atribute yang Detail Seperti Dark Souls

Tidak perlu khawatir untuk mendistribusikan attribute setiap level up di Sekiro: Shadows Die Twice. Tidak seperti Dark Souls, Sekiro: Shadows Die Twice tidak memiliki attribute yang mendetail. Namun, kamu tetap bisa menaikkan limit dari health bar, attack, dan posture.

Prayer Bead untuk health dan posture, Memory untuk attack

Setiap kali melawan mini boss dan boss, pemain akan mendapatkan item khusus. Jika jumlah item yang dibutuhkan sudah sesuai, pemain bisa menggunakannya untuk meningkatkan attribute. Jadi ingat, pastikan untuk membunuh semua mini boss dan boss yang dijumpai.

Kesimpulannya

Saya ulangi lagi, Sekiro: Shadows Die Twice bukan untuk gamer yang mudah memyerah, bukan untuk gamer yang gampang emosi, bukan untuk gamer yang mencari game casual.

Sekiro: Shadows Die Twice adalah game hardcore. Meski memiliki skill assassinate, deflect, resurrection, hal-hal tersebut sama sekali tidak terlalu berdampak dengan tingkat kesulitan Sekiro: Shadows Die Twice yang memang sudah susah. Namun fitur-fitur tersebut berhasil membuat game ini menjadi lebih berwarna.

Sekiro: Shadows Die Twice juga sangat punishing bagi pemainnya. Tidak reset untuk skill artinya pemain akan stuck jika mengambil skill yang salah. Belum lagi farming experience point di game ini sedikit menyebalkan. Karena setiap kali mati, experience point akan berkurang/

Tapi, jika kamu suka dengan game seperti Dark Souls dan Bloodborne, maka kamu akan menyukai Sekiro: Shadows Die Twice. Tema Jepang yang diangkat dalam game ini ibarat menyegarkan suasana. Karena di Dark Souls dan Bloodborne, From Software selalu menggunakan tema dari Eropa.

Selain mencoba di PS4, saya juga memainkan game ini PC. Khusus untuk PC, saya bisa mengkonfirmasi jika spesifikasi Sekiro: Shadows Die Twice tidak demanding. Untuk masalah replay value, saya ragu ada gamer yang ingin memainkan game ini sekali lagi setelah tamat.

*Sekiro: Shadows Die Twice yang direview adalah versi PS4 dan PC