Padahal baru Januari, sudah tersaji game bagus yang telah dinanti sejak lama. Game yang saya maksud adalah Resident Evil 2 Remake. Game ini merupakan jawaban Capcom bagi para fans yang memang menginginkan seri tersebut dbuat ulang dengan teknologi terkini.

Kenapa saya bilang game ini sudah dinanti sejak lama? Jauh sebelum Capcom merilis trailer Resident Evil 2 Remake di E3 2018, fans malah sudah membuat sendiri gamenya. Pembuatan versi fanmade ini bahkan sampai harus dihentikan oleh Capcom. Ini membuktikan jika fans memang kangen dengan Resident Evil 2.

Ketika akhirnya Capcom mengumumkan Resident Evil 2 Remake, para fans gembira karena mimpinya terkabulkan. Gamer yang baru mengenal Resident Evil juga bisa mencoba game legendaris ini tanpa khawatir sakit mata.

Dengan hype yang tinggi seperti itu, apakah Resident Evil 2 Remake ini berhasil? Menurut saya jawabannya ada “iya”. Game ini sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan.

Lama Tapi Baru

Dari segi cerita, tidak ada yang baru dari Resident Evil 2 Remake. Capcom masih menggunakan alur cerita yang sama. Mulai dari pertemuan takdir Leon dan Claire di stasiun pompa bensin, lalu menelusuri Raccoon Police Departement yang dipenuhi zombie, dan berakhir dengan terungkapnya Umbrella Corporation sebagai dalang dibalik semuanya.

Gameplay di Resident Evil 2 Remake akan dibagi dua, yaitu jalan cerita Leon dan Claire. Pada bagian awal cerita keduanya akan sama. Pada pertengahan cerita Leon dan Claire baru berbeda. Claire akan ditemani oleh Sherry, sedangkan Leon bersama Ada Wong.

Untuk tingkat kesulitan, Resident Evil 2 Remake tetap seperti versi originalnya. Pemain akan dipaksa untuk bertahan hidup dengan amunisi yang terbatas. Belum lagi monster di game ini jauh lebih kuat dibandingkan versi originalnya. Bayangkan untuk membunuh zombie dengan headshot saja memerlukan 5-7 peluru bahkan kadang lebih.

Cara lain untuk mendapatkan peluru: combine gunpowder

Pembaruan dari Resident Evil 2 Remake jelas dari segi visualnya. Digarap dengan RE engine, dunia Resident Evil 2 berubah total. Tidak ada lagi gambar kotak-kotak. Sekarang wajah Claire dan Leon bisa dilihat secara jelas. Ada satu hal yang ingin saya kritik pada tampilan wajah Leon dan Claier. Menurut saya, wajah keduanya terlalu babyface terutama Claire. Tapi ini mungkin karena pada saat kejadian Resident Evil 2 keduanya masih muda.

Bagaimana menurut kamu?

Gameplay juga mengalami perubahan total. Resident Evil 2 Remake tidak lagi menggunakan fixed camera. Game ini justru menggunakan gaya Resident Evil 4 yaitu over-the-shoulder camera. Pemain tidak perlu lagi khawatir dengan masalah sudut pandang dengan gaya ini.

Over-the-shoulder memang lebih cocok untuk Resident Evil

Fitur baru lain yang diperkenalkan di Resident Evil 2 Remake adalah secondary weapon. Ada tiga tipe secondary weapon, yaitu pisau, granat flashbang, dan granat ledak. Ketiga senjata ini bisa digunakan langsung atau pada saat meng-counter serangan musuh.

Maksud counter ini adalah di Resident Evil 2 Remake, musuh seperti zombie bisa menangkap Leon/Claire. Jika tertangkap Leon/Claire bisa menyerang balik. Syaratnya Leon/Claire harus menggunakan secondary weapon. Jika tidak ada secondary weapon yang dipakai musuh bisa langsung menyerang. Ada beberapa musuh yang bisa langsung membunuh Leon/Claire. Jadi secondary weapon ini penting dan harus selalu dipakai untuk jaga-jaga.

Kombinasi antara yang lama dengan yang baru di Resident Evil 2 Remake ini berjalan seperti yang diharapkan. Gamer yang dulu sudah memainkan versi originalnya masih bisa menikmati kesan klasik dengan tampilan baru yang “wah”. Sebagai fans, saya puas dengan kombinasi ini.

Kembalinya Puzzle dan Backtracking

Ciri khas Resident Evil selain zombie adalah puzzle. Franchise ini terkenal karena memiliki puzzle yang sulit. Namun belakangan puzzle di game Resident Evil semakin menghilang terutama di seri baru. Puzzle tidak lagi membuat kepala pusing dan bisa dengan cepat diselesaikan.

Pada Resident Evil 2 Remake, puzzle masih ada. Untungnya puzzle di game ini tidak semuanya rumit. Kebanyakan puzzle di game ini bisa dengan cepat diselesaikan. Kuncinya hanya satu, yaitu cermat. Namun ada juga puzzle yang sangat rumit sampai-sampai saya terpaksa membuka guide untuk menyelesaikannya.

Satu hal yang kurang saya sukai adalah backtracking. Pada bagian pertama game, hampir sebagian waktu saya habiskan untuk backtracking. Untuk membuka pintu di ruang A, saya harus mengambil kunci B yang ada di ruangan C. Setelah saya mendapat kuncinya di ruang C, saya harus kembali ke ruang A dan membuka pintunya, buang-buang waktu.

Sebagai fans, saya masih maklum dengan backtracking ini. Bayangkan jika yang saya adalah gamer awam yang baru mengenal Resident Evil. Pasti bakal bosan.

Seandainya saja developer lebih memilih untuk mengembangkan map baru daripada memaksa pemain untuk backtracking. Misalnya lokasi Orphanage yang menjadi map tambahan di story milik Claire. Seharusnya lokasi baru seperti ini jumlahnya ditambah.

Visual yang Luar Biasa “Mengerikan”

Daya tarik utama dari Resident Evil 2 Remake adalah visual. Game ini begitu indah, namun tetap memiliki atmosfir horor yang menyeramkan. Pemain harus berjalan di lorong yang gelap dan hanya bermodalkan senter untuk penerangan. Ditambah ada suara-suara aneh yang membuat suasana menjadi semakin mencekam.

Monster di Resident Evil 2 Remake diperlihatkan dengan visual yang sangat mendetail. Zombie tidak lagi hanya memiliki wajah pucat dan mata putih. Sekarang kamu bisa melihat kulit wajah yang terkelupas, tangan atau kaki yang putus, setiap bagian tubuh yang ditembak akan terlihat hancur dan berdarah. Sayangnya developer tidak membuat AI dari monster-monster ini pintar karena mereka masih bisa dibodohi.

Berhubung Resident Evil 2 Remake yang saya mainkan adalah versi PC, saya akan singgung sedikit performa game di PC. Kartu grafis yang digunakan PC saya adalah GTX 1060 dengan virtual RAM 3GB.

Isi menu graphics di Resident Evil 2 Remake

Dalam menu option saya telah mendapat peringatan jika virtual RAM kartu grafis saya tidak sesuai spesifikasi. Opsi graphic lalu saya turunkan ke medium dan hasilnya game bisa jalan dan tetap halus. Karena dimainkan dengan tingkat graphic di bawah standar, ada beberapa hal yang terlihat “kurang sreg”. Ada juga fitur-fitur yang terpaksa saya kurangi misalnya shadow.

Jika dilihat dengan cermat, cahaya dari kaca teksturnya tidak mulus

Replay Value

Untuk membicarakan replay value, saya akan membandingkan Resident Evil 2 Remake dengan Resident Evil 7. Kekurangan utama dari game Resident Evil 7 kemarin adalah game tersebut tidak memiliki replay value. Begitu tamat, pemain kemungkinan ogah untuk memainkannya lagi meski ada branching saat memilih menyelamatkan Zoe atau Mia.

Pada Resident Evil 2 Remake, kesalahan ini berhasil diperbaiki oleh Capcom. Sedikit spoiler, Resident Evil 2 Remake memiliki 2 ending untuk Leon dan Claire. Ending pertama adalah standard, sedangkan ending kedua adalah true ending. Belum lagi mode 4th survivor dimana pemain bisa memainkan Hunk dan TOFU.

Alasan kenapa Resident Evil 2 Remake harus dimainkan lebih dari sekali

Kesimpulannya

Secara garis besar, Resident Evil 2 Remake adalah game yang bagus dan wajib untuk dicoba, tidak hanya bagi fans saja tapi untuk semuanya. Adanya fitur baru serta tampilan visual yang luar biasa dibalut dengan elemen klasik membuat game ini sangat berkesan.

*Resident Evil 2 Remake yang direview adalah versi PC