Review Final Fantasy XIV Shadowbringers: Usai Terang Terbitlah Gelap

0
71

Puas! Ya, itulah yang saya rasakan usai memainkan ekspansi terbaru dari Final Fantasy XIV Shadowbringers. Ekspansi ke-3 ini luar biasa dari segi cerita bahkan bisa menandingi Heavensward yang digadang-gadang sebagai ekspansi terbaik Final Fantasy XIV.

Ada dua hal yang membuat saya suka dengan Shadowbringers. Pertama jelas adalah dari segi cerita. Bukan Final Fantasy namanya jika memiliki cerita yang dangkal. Musik juga menjadi nilai plus Shadowbringers.

Cerita yang Straight Forward

Dari segi cerita, Shadowbringers bisa dibilang sempurna. Cerita tentang kepahlawanan, keputusasaan, dan harapan, masih menjadi tema utama. Pada ekspansi ini tidak ada cerita yang berbelit-belit, semuanya straight to the point.

Pada ekspansi ke-2 Stormblood, alur cerita begitu banyak dijejali oleh politik. Untuk membebaskan ala Mhigo yang dijajah oleh Empire, kubu aliansi harus mencari bantuan yang lebih banyak. Akhirnya Hero of Light (Karakter kamu) bersama Scion of Seventh Dawn pergi ke timur untuk membantu Doma yang juga dijajah oleh Empire. Setelah memerdekakan Doma, Scion of Seventh Dawn kembali dengan membawa bala bantuan. Terkepung, Empire akhirnya tidak dapat mempertahankan Ala Mhigo. Seperti itulah cerita dari Stormblood.

Pada Shadowbringers alur cerita yang diangkat lebih sederhana, yaitu pahlawan yang menyelamatkan dunia dari kehancuran. Menurut saya pemilihan cerita ini tepat. Setelah dijejali dengan politik di Stormblood, pemain menginginkan cerita yang lebih enteng. Cerita ini menurut saya juga lebih relate dengan tema Final Fantasy itu sendiri.

Thancred vs Ranjit

Di Shadowbringers, hero dan Scion of the Seven Dawn dipanggil untuk menyelamatkan dunia di dimensi lain bernama The First. Dunia tersebut berada di ambang kehancuran karena bencana yang dinamakan flood of light. Satu wilayah yang belum tersentuh flood of light bernama Norvrandt. Wilayah inilah yang menjadi latar di Shadowbringers.

Keunikan Norvrandt

Berbeda dengan Eorzea, Norvrandt memiliki kebudayaan yang berbeda. Misalnya perubahan nama untuk ras, misalnya Hyur menjadi Hume. Ras beastmen yang merupakan musuh di Eorzea ternyata malah sebaliknya di Norvrandt. Mereka justru bisa hidup bersama dengan ras yang lain. Perbedaan ini membuat Norvrandt menjadi lebih menarik.

Shadowbringers memiliki dua ras baru, Viera dan Ronso. Viera adalah manusia kelinci dan Ronso adalah manusia singa. Sayangnya kedua ras ini memiliki keterbatasan. Viera hanya untuk wanita, sedangkan Ronso hanya pria. Kedua ras ini juga memiliki peran besar di wilayah Norvrandt.

Keunikan lain dari Novrandt adalah bagaimana mereka justru menjadikan kegelapan sebagai sesuatu yang baik. Justru cahaya yang selama ini dianggap sebagai simbol kebaikan, malah menjadi sosok antagonis. Keterbalikan ini juga menjadi daya tarik dari ekspansi Shadowbringers.

Musik yang Megah 

Sudah menjadi tradisi jika Final Fantasy XIV memiliki soundtrack yang ciamik. Mulai dari awal sampai sekarang, soundtrack Final Fantasy XIV selalu memuaskan tidak terkecuali Shadowbringers.

Salah satu soundtrack yang paling ikonik adalah soundtrack yang ditampilkan pada trailer Shadowbringers. Liriknya pun mencerminkan pada cerita yang diangkat, yaitu pertempuran antara cahaya dengan kegelapan. Spoiler, soundtrack ini juga digunakan dalam final battle. Jadi buat kamu yang sedang memainkan Shadowbringers, bersiap-siap saja.

Selain main soundtrack, masih banyak soundtrack lain dari Shadowbringers yang memukau. Misalnya soundtrack untuk kota Crystarium terkesan megah, sesuai dengan kondisi kota tersebut. Wilayah Il Meg yang menjadi rumah bagi bangsa peri memiliki soundtrack yang gembira, sesuai dengan mood penghuninya.

Adalah Masayoshi Soken yang berada di belakang pembuatan musik Final Fantasy XIV. Ia juga tidak sendiri. Beberapa nama terkenal juga turut membantunya, seperti Nobuo Uematsu. Mereka sudah mengerjakan musik Final Fantasy XIV sejak A Realm Reborn dan sekarang Shadowbringers.

Tetap Setia dengan Grafis Lama

Secara grafis, tidak ada perubahan. Developer sepertinya masih betah menggunakan gaya yang sama meski sudah 7 tahun lamanya (A Realm Reborn dirilis pada 2013). Namun bukan berarti mereka tidak menginginkan perubahan. Producer Naoki Yoshida pernah mengatakan jika ia tertarik untuk memperbarui tampilan visual Final Fantasy XIV.

Dalam wawancaranya dengan Dualshockers, Yoshida mengatakan jika ia dan timnya memiliki keinginan untuk membuat tampilan visual Final Fantasy XIV menjadi lebih “cantik”. Namun kendalanya adalah perubahan seperti itu bukanlah perubahan kecil. “Saya harus kembali menyesuaikan alur kerja tim jika ingin melakukannya, sedangkan Final Fantasy XIV sendiri adalah game MMO dimana selalu ada update baru setiap bulannya. Selain itu kami juga harus memperhatikan platform yang digunakan oleh pemain. Gamer PS4 mungkin bisa mengikuti, tapi bagi gamer PC tidak semuanya bisa mengikuti,” katanya.

Jika perubahan ini akhirnya bisa terjadi, maka Final Fantasy XIV bisa menjadi game MMORPG paling sempurna. Grafis bagus, soundtrack bagus, cerita bagus, apalagi yang kurang.

Ada Tambahan Job Class Tapi Gameplay Tidak Berubah

Gameplay dari Final Fantasy XIV tidak berubah. Jika ada yang berubah justru adalah mekanik dari job class. Setiap update besar biasanya juga berisi perubahan dalam job class. Selama mencoba Shadowbringers, saya menggunakan job class Dragoon, Samurai, dan Warrior. Ketiga job class ini mengalami perubahan dalam mekanik. Misalnya Dragoon di Shadowbringers memiliki skill AOE (Area of Effect) yang lebih lengkap dan bisa di-chain combo.

Shadowbringers juga menghadirkan dua job class baru, yaitu Dancer dan Gunbreaker. Dancer adalah job class tipe DPS jarak jauh sekaligus memberikan buff. Untuk menggunakan Dancer diperlukan perhatian yang lebih. Karena selain menyerang, Dancer juga harus memberikan buff kepada anggota yang lain.

Gunbreaker adalah job class tipe tank. Gameplay job class ini straight forward, yaitu menahan serangan semua serangan musuh. Keunikan dari Gunbreaker adalah job class ini tidak menggunakan MP, tapi peluru. Jika peluru habis maka beberapa skill tidak bisa digunakan. Gunbreaker juga memiliki skill homage dari Squall dan Seifer.

Selain job class baru, masih ada fitur baru lainnya diimplementasi di Shadowbringers. Trust system, yaitu pemain bisa menyelesaikan dungeon tanpa harus dengan bantuan pemain lain. Kamu akan dibantu oleh NPC yang serba otomatis. Ada dua raid baru, yaitu Eden yang didesain Tetsuya Nomura dan YorHa: Dark Apocalypse buatan Yosuke Saito dan Yoko Taro.

Eden, masih ingat munculnya di Final Fantasy berapa?

Kesimpulan

Naoki Yoshida bersama dengan timnya berhasil membuktikan jika Final Fantasy XIV tidak bisa dianggap remeh. Final Fantasy XIV adalah contoh dari game MMORPG yang tidak hanya menimbun fitur saja, tapi juga mengedepankan cerita. Shadowbringers adalah jawabannya.

Jika kamu sedang mencari game MMORPG, saya sarankan untuk mencoba Final Fantasy XIV. Memang game ini tidak gratis dan harus berlangganan, tapi saya jamin kamu tidak bakal menyesal.