Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Sejak tanggal 27 hingga 30 Agustus 2015 kemarin, PT Kreon membuka server Tree of Savior Indonesia (ToS) untuk menggelar periode Close Beta Test (CBT) tahap pertama. Masa CBT sendiri dilakukan untuk mengetahui sebanyak apa bug ataupun error yang terdapat dalam game sebelum masa komersil secara penuh. Nah… selama empat hari tersebut, Playcubic juga ikut mencicipi seperti apa serunya masa CBT pertama ToS dengan langsung mencoba memainkan game besutan studio IMC Games dan kreator game Ragnarok Online pertama Kim Hakkyu ini.

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Pilihan kontrol yang lengkap juga menjadi nilai tambah tersendiri bagi ToS. Gamer diberi keleluasaan untuk menentukan sistem kendali karakter seperti apa yang nyaman bagi masing-masing gamer. Playcubic sendiri lebih menyukai kontrol karakter dengan sistem mouse dimana item konsumsi akan terletak antara F1,F2,F3 dan seterusnya, sedangkan skill ditelakkan pada tombol 1,2,3 dan seterusnya. Gamer yang kurang menyukai skema kendali dengan mouse dapat menggantinya dengan skema keyboard atau gamepad.

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Masuk lebih dalam menjajal ToS, Playcubic semakin merasakan adanya kemiripan ToS dengan “saudara jauhnya” (RO), yah semua itu memang bias dimaklumi karena game ini memang dibuat oleh dedengkot pembesut RO. Wajah karakter game yang imut dan khas membuat gamer semakin penasaran untuk meningkatkan level karakter dan juga tampilan fisik karakter menjadi lebih keren.  Playcubic memilih untuk menggunakan karakter dengan kelas Swordsman untuk merasakan keindahan dunia ToS. Tiap kali kalian melihat patung Goddess di map dungeon maupun kota, jangan lupa untuk “menyembah” patung tersebut untuk menyimpan posisi  yang berguna saat ingin melakukan warp. Salah satu hal yang membuat Playcubic terkejut adalah sudut pandang kamera yang tidak dapat diubah, hal ini kabarnya memang disengaja oleh pengembang game untuk tujuan tertentu yang pastinya positif.

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Saat menjalankan quest yang pada bagian akhir perlu berhadapan dengan monster ataupun bos monster, karakter kita akan masuk ke dalam battle map sendiri. Sisi positif dari model pertarungan seperti ini adalah dalam penyelesaian quest kita  tidak akan diganggu atau tidak perlu rebutan dengan gamer lain. Namun sisi jeleknya adalah suasana map terlihat sepi (kecuali kalian membuat grup alias tidak hunt secara solo) dan tidak ada gamer yang bisa dimintai pertolongan saat keadaan karakter kita sedang kritis. Setelah menyelesaikan quest, kita akan mendapatkan kartu EXP yang ketika digunakan akan menambah jumlah EXP untuk meningkatkan level karakter.  Jangan lupa untuk selalu memeriksa berat item yang dibawa oleh karakter, karena jika sudah mencapai batas maksimal maka karakter kita tidak dapat berlari alias hanya dapat berjalan secara lambat. Tidak hanya berat item yang dibawa oleh karakter, masa pakai dari equipment yang digunakan karakter juga harus selalu diperhatikan, jika masa pakainya sudah hampir habis, maka kekuatan dari equipment tersebut akan berkurang dan akhirnya tidak memiliki efek.

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Fitur map yang terdapat dalam ToS juga nampak sedikit mirip dengan game Diablo III. Gamer tidak dapat melihat map secara utuh jika belum menjelajahi seluruh area yang ada dalam map tersebut. Untungnya simbol quest terlihat cukup jelas didalam map, membuat gamer tidak akan kesulitan saat ingin menuju area tertentu untuk menyelesaikan quest. Monster yang terdapat di field map juga beragam dan bentuknya menarik. Membuat gamer berada di antara pilihan untuk menghabisi monster tersebut atau malah ingin menjadikannya sebagai pet.

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Selama masa CBT, tentu saja terdapat banyak bug yang masih hadir dalam game ini. Semakin banyak ditemukannya bug oleh gamer, tentu saja akan mempermudah pihak pengembang game untuk menentukan perbaikan seperti apa yang harus dilakukan agar saat masuk masa komersil gamer tidak akan menemukan bug yang mengganggu jalannya permainan. Ada dua bug yang lucu saat mencoba ToS di masa CBT pertamanya ini. Pertama adalah bug loncat yang tidak habis-habis. Karakter Playcubic dapat loncat terus menerus hingga mencapai langit, hehehe. Bug yang ke dua adalah bug terjatuh di area Crystal Mine.  Karakter Playcubic tiba-tiba saja jauh secara perlahan ke dalam lembah dan jika tidak berusaha melompat mungkin karakter Playcubic akan hilang secara misterius (lebay mode on).

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia

Yap… seperti itulah kurang lebihnya kesan-kesan Playcubic saat mencoba CBT pertama ToS minggu lalu. Kesimpulannya, ToS menghadirkan elemen-elemen dari game MMORPG cukup lengkap dan lebih segar, selain tentunya akan membawa gamers MMORPG yang sudah lebih dari 10 tahun menjajal genre serupa kembali untuk bernostalgia. Semoga pada sesi CBT ke dua (atau malah langsung masuk ke masa komersil), ToS Indonesia sudah bebas dari bug dan event-event yang dihadirkan oleh PT Kreon dalam game ini akan disukai oleh gamer di tanah air.

Bagaimana menurut gamers disini? Apakah ToS dapat merebut hati gamers MMORPG di Indonesia? Kita lihat saja saat diluncurkannya masa komersil server ToS Indonesia suatu saat nanti.

Review: CBT Pertama Tree of Savior Indonesia