Selama ini pasar penjualan game digital untuk PC didominasi oleh Valve melalui Steam. Baik developer besar maupun indie menggunakan Steam untuk menjajakan gamenya. Dengan popularitas Steam yang terus menanjak, Valve menyadari jika publisher, developer, dan gamer menjadi sangat bergantung dengan Steam. Pada akhirnya munculah berbagai macam keputusan yang bisa dibilang “berat sebelah”.

Misalnya mengenai sistem bagi keuntungan antara Valve dengan developer yang menjual gamenya melalui Steam. Kebijakan Valve adalah mereka akan mengambil potongan sebesar 30 persen dari setiap game yang dijual di Steam. Kebijakan tersebut lalu dirubah baru-baru ini. Jika developer bisa menjual gamenya dengan keuntungan lebih dari 10 juta dolar, maka potongan yang akan diambil oleh Valve turun dari 30 persen menjadi 25 persen. Jika keuntungannya mencapai 50 juta dolar ke atas, maka potongan yang diambil semakin kecil yaitu 20 persen (Thanks Gamebrott).

Kebijakan ini memang secara sekilas terlihat menguntungkan tapi hanya untuk developer besar. Bagaimana nasibnya bagi developer indie yang hanya memiliki budget terbatas?

Tidak hanya itu, masih ada kebijakan lain Valve yang dinilai merugikan seperti tidak konsistennya Valve soal konten porno dalam game di Steam. Belum lagi kontoversi soal otak-atik harga saat Steam Sale.

Terlepas dari masalah-masalah tersebut, Valve tetap menjadi primadona sebagai platform penjualan game digital. Tapi tahukah kamu, ternyata selain Steam masih ada platform-platform lain yang menyediakan jasa yang sama. Beberapa bahkan digadang-gadang akan menjatuhkan Steam dari tahtanya:

1. Here Comes The New Challenger, Epic Games!

Berita terbaru sekaligus yang paling panas adalah Epic Games yang secara terang-terangan menantang Valve. Awalnya developer, Epic Games siap bertransformasi menjadi platform penjualan game digital seperti Steam.

CEO Epic Games, Tim Sweeney mengatakan jika pihaknya akan membuat platform mirip Steam untuk menjual game versi digital. Ia mengatakan jika semua jenis game bisa dijual di platform ini, bukan hanya game yang dibuat dengan Unreal Engine saja. Tidak hanya itu, biaya potongan yang diminta juga jauh lebih kecil. Jika Valve meminta 30 persen, maka Epic hanya akan mengambil 12 persen saja. Sisanya yaitu 88 persen masuk ke kantong developer. Jika game tersebut dibuat dengan Unreal Engine, maka biaya potongannya semakin kecil yaitu 5 persen saja.

Detail lebih lanjut mengenai platform ini akan diungkap pada acara The Game Awards 2018 pada tanggal 6 Desember nanti.

2. Tencent dengan WeGame

Pesaing Steam juga datang dari China. Raksasa China Tencent juga membuat platform online bernama WeGame. Sama seperti Steam, WeGame juga menyediakan jasa distribusi game versi digital untuk PC, sosial media, bahkan video.

Pada awalnya WeGame hanya ditujukan untuk developer China saja. Namun, untuk kedepannya Tencent berencana untuk membuat WeGame versi global. Artinya developer dan gamer seluruh dunia nantinya bisa mengakses platform tersebut.

Merespon ambisi Tencent, Valve sendiri telah mengumumkan bakal membuat Steam khusus untuk wilayah China. Akankah upaya ini berhasil?

3. Masih Ada Uplay, Origin, Microsoft Store, dan Battle.Net

Banyak publisher besar yang akhirnya membuat platform sendiri untuk menjual game buatannya. Mungkin mereka ingin menghindari potongan biaya dari “sang makelar” demi meraup semua keuntungan.

Ada empat platform yang pastinya sudah kamu kenal. Pertama ada Uplay yang dimiliki oleh Ubisoft. Lalu ada Origin kepunyaan EA, Microsoft Store, dan yang terakhir Battle.Net yang dimiliki Blizzard ft. Activision. Keempatnya hanya menjual game yang dibuat oleh developer sendiri, namun khusus untuk Microsoft Store, barang yang dijual lebih bervariasi seperti software maupun gadget.

4. Bayar 1 dapat 3 di Humble Bundle

Humble Bundle adalah platform online yang unik. Pasalnya model bisnis yang digunakan adalah sistem borongan. Membeli hanya dengan harga satu game, gamer sudah bisa mendapatkan banyak game. Humble Bundle juga melayani pembelian game digital secara satuan. Sayangnya setiap game yang dibeli pada akhirnya tetap harus direedem di Steam.

5. Yang Terakhir, GOG

GOG mungkin adalah kompetitor utama dari Steam saat ini, Sayangnya GOG belum bisa menyaingi popularitas Steam.

GOG sendiri dikembangkan oleh CD Projekt Red. Nama tersebut tidaklah asing karena CD Projekt Red adalah developer dibalik game sensasional The Witcher dan yang akan datang Cyberpunk 2077.

Keunggulan dari GOG adalah platform ini bebas DRM atau Digital Rights Management. Software Denuvo merupakan salah satu bentuk dari DRM. Software ini banyak digunakan oleh game milik publisher besar di Steam, misalnya Sega dan Ubisoft.

Itulah para kompetitor yang harus diwaspadai oleh Steam. Apa yang dilakukan oleh Epic Games mudah-mudahan menjadi pemicu bagi platform online lainnya agar lebih berani dalam melawan dominasi Steam.

Bagaimana menurut kamu? Apakah termasuk gamer yang sudah mulai menggunakan platform selain Steam?